Belém, Brasil — Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga keberlanjutan lingkungan global dengan memperkuat diplomasi hijau melalui pembentukan Aliansi Hutan Tropis dan Laut Dunia (Global Alliance for Tropical Forests and Oceans) di sela-sela Konferensi Perubahan Iklim COP30 di Belém, Brasil. Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya Indonesia memperkuat posisi sebagai pemimpin global dalam pengelolaan ekosistem tropis dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Kolaborasi Global untuk Lingkungan Berkelanjutan
Aliansi ini diinisiasi oleh beberapa negara dengan hutan tropis terbesar di dunia seperti Indonesia, Brasil, Republik Demokratik Kongo, dan Malaysia, serta negara-negara kepulauan yang memiliki wilayah laut luas seperti Fiji dan Filipina. Tujuannya adalah memperkuat kerja sama dalam konservasi hutan, pengelolaan ekosistem laut, dan pembiayaan iklim yang adil untuk negara berkembang.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Indonesia, Siti Nurbaya Bakar, dalam pernyataannya menegaskan bahwa diplomasi hijau ini bukan hanya untuk kepentingan nasional, tetapi juga sebagai kontribusi nyata terhadap target global dalam pengendalian perubahan iklim.
“Indonesia tidak hanya berbicara, tetapi bertindak nyata. Melalui aliansi ini, kita berkomitmen memperkuat pengelolaan hutan dan laut secara berkelanjutan, dengan prinsip keadilan dan tanggung jawab bersama,” ujarnya di Belém, Jumat (7/11/2025).
Diplomasi Hijau Jadi Arah Baru Politik Luar Negeri Indonesia
Diplomasi hijau telah menjadi bagian dari strategi politik luar negeri Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan transisi energi global. Dalam konteks COP30, Indonesia memposisikan diri sebagai bridge builder antara negara maju dan negara berkembang, khususnya dalam pembahasan pendanaan iklim dan transfer teknologi ramah lingkungan.
Melalui aliansi baru ini, Indonesia juga berharap dapat memperkuat akses pendanaan karbon internasional dan mendorong nilai ekonomi dari jasa lingkungan. Hal ini selaras dengan kebijakan nasional seperti Forestry and Other Land Use Net Sink 2030 dan pengembangan ekonomi biru (blue economy) yang menjadi fokus pemerintah.
Selain itu, kerja sama ini akan mendukung pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas, dan penerapan teknologi berbasis alam (nature-based solutions) untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Komitmen Terhadap Hutan Tropis dan Ekosistem Laut
Indonesia, sebagai rumah bagi sekitar 10% hutan tropis dunia dan 17% keanekaragaman hayati laut global, memiliki posisi strategis dalam upaya pelestarian alam. Lewat aliansi ini, pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga ekosistem penting seperti hutan hujan Kalimantan, Papua, serta terumbu karang di wilayah timur Indonesia.
Fokus utama kolaborasi meliputi:
- Pengurangan deforestasi dan degradasi lahan
- Perlindungan ekosistem laut dari penangkapan ikan berlebih
- Pengembangan ekonomi hijau dan biru yang berkelanjutan
- Pemberdayaan masyarakat adat dan pesisir dalam pengelolaan sumber daya alam
Dunia Harapkan Kepemimpinan Indonesia
Para pengamat internasional menilai pembentukan aliansi ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi negara-negara tropis dalam negosiasi global. Indonesia dinilai memiliki rekam jejak positif dalam menekan laju deforestasi dan memperluas kawasan konservasi laut dalam satu dekade terakhir.
Kepemimpinan Indonesia di panggung COP30 diharapkan mampu menjadi contoh bagi negara lain dalam menerapkan kebijakan berbasis lingkungan yang inklusif dan berkeadilan. Dengan sinergi antara hutan dan laut, Indonesia menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan bukan hanya tanggung jawab masa depan, tetapi komitmen nyata hari ini.
Penutup
Melalui Aliansi Hutan Tropis dan Laut Dunia, Indonesia memperkuat diplomasi hijau sekaligus mempertegas peran strategisnya dalam tata kelola lingkungan global. Dari Belém, pesan kuat disampaikan: masa depan bumi hanya bisa diselamatkan lewat kolaborasi, keadilan iklim, dan aksi nyata lintas negara.
Dengan langkah ini, Indonesia menunjukkan bahwa pembangunan dan pelestarian dapat berjalan beriringan demi keberlanjutan generasi mendatang.












